Jum’at,
25 Januari 2013
Hari ini mengingatkanku kembali pada kejadian 12 tahun silam. Tak
terasa ternyata kejadian itu sudah lama, namun tetap membekas dalam hatiku dan
tersimpan dalam memoriku yang terdalam.
Kamis,
25 Januari 2001
06.00
WITA
Pada hari ini, saya pun memulai aktivitasku seperti biasa.
Mengambil handuk untuk mandi sebelum pergi ke sekolah. Saat hendak ke kamar
mandi, tiba-tiba telepon rumah berdering. Aku pun heran, kok pagi-pagi begini sudah
ada yang menelpon? Setelah ku angkat, ternyata tanteku yang sedang ada di rumah
sakit.
“Assalamu’alaikum. Siapa ini?”, kataku setelah mengangkat telpon.
“Wa’alaikumussalam. Ini Uwak, nak. Bahjah ya?”
“Iya, benar. Ada apa Uwak?”
“Tolong sampaikan sama orang-orang yang ada di rumah kalau Abamu
sudah sekarat”, tanteku pun menjawab dengan suara bergetar.
Karena tak mengerti arti sekarat, maka dengan santainya saya pun
berkata, “Oh, iya Uwak nanti saya sampaikan.”
Telepon pun segera ku tutup dan menyampaikan pesan tersebut pada
orang-orang di rumah. Saat itu, hanya saya dan anak-anak kos yang ada. Jadi,
aku pun memberitahukan pada salah seorang di antara mereka.
“Kak Santi, tadi Uwak nelpon. Katanya Aba sekarat. Tolong kasih tau
juga kakak-kakak yang lain,” dengan polosnya aku pun menyampaikan kalimat itu
karena tak mengerti maksud dari ‘sekarat’ itu.
Kak Santi pun mengangguk
sambil menunjukkan ekspresi kaget dan menuju ke kamar mandi. Setelah itu, ku
perhatikan raut wajahnya berubah menjadi sedikit merah dan sedih, sepertinya ia
sudah menangis. Aku pun heran dan semakin heran saat anak-anak kos satu per
satu masuk kamar mandi dan keluar dengan mata yang merah. Saking penasarannya,
aku pun bertanya,”Kenapa menangis kak? Apakah itu sekarat?”. Kakak yang ku
tanya pun hanya diam. Mungkin menurutnya saya lebih baik tidak tahu arti ‘sekarat’
dibandingkan ia menjelaskan artinya pada anak yang baru berusia 10 tahun.
Tidak lama kemudian, ada orang yang mengetuk pintu rumah. Aku pun
membukanya, ternyata Fara teman sekolahku. Ia memang biasa datang menjemputku
karena masih tidak terlalu paham dengan peta menuju sekolahku. Ia memang masih
tergolong baru di kota ini, seorang anak pindahan dari Irian Jaya. Aku pun
berkata,”Aku belum mandi.” Masih dengan sebuah handuk yang menggantng di leher.
Ia pun ingin menunggu. Saat saya ingin ke kamar mandi, Kak Santi berkata,”Tidak
usah pergi sekolah bilang saja sama temanmu untuk menyampaikan pada gurumu
kalau Abamu sedang sekarat di rumah sakit.” Masih dalam kondisi yang tidak
mengetahui makna dari ‘sekarat’. Aku pun menyampaikan kalimat itu pada Fara
sambil meminta maaf karena tidak bisa menemaninya ke sekolah hari ini. Akhirnya
ia pun pergi dengan wajah bingung, mungkin ia pun tak mengerti arti ‘sekarat’.
Tiba-tiba telepon berdering kembali, mungkin tanteku. Aku pun
mengangkatnya dan benar tebakanku, tanteku yang menelepon. Tetapi, kali ini ia
memintaku untuk menyerahkan telepon tersebut pada anak kos. Aku pun
menyerahkannya sambil menunggu kabar apa yang disampaikan oleh tanteku. Setelah
telepon ditutup, aku pun bertanya,”Uwak bilang apa, kak?.” Sambil terisak ia
pun berkata,”Abamu sudah meninggal tadi pukul 06.45 WITA di RS Faisal.”
“DEG”!!!
Kaget ditambah perasaan campur aduk. Itu yang kurasakan saat
mendengar berita tersebut. Namun, tak setitik pun air menetes dari kedua
mataku. Masih ada perasaan tidak percaya. Aku harus membuktikannya sendiri.
Aku pun segera mandi dan mengganti baju sambil menunggu kedatangan
Abaku. Saat itu, rumahku sedang direnovasi jadi tidak memungkinkan untuk
menampung orang-orang yang akan datang untuk melayat nanti. Maka, kami pun
membersihkan bangunan depan rumah yang berfungsi sebagai kelas untuk anak-anak
TPA di sore hari. Kebetulan di sana juga ada kamar mandi yang cukup luas yang
bisa digunakan untuk memandikan Abaku. Para tetangga pun ikut membantu memasangkan
tenda di halaman rumah. Tak lama kemudian, datang sebuah mobil ambulance dan
menurunkan mayat Abaku lalu meletakkannya di atas kasur yang sudah disediakan
dari tadi. Ummiku pun ikut turun sambil menangis.
Hatiku masih terasa hampa. Mataku belum menitikkan air setetes pun
bahkan saat Abaku terbaring di atas kasur dengan tubuhnya yang kaku. Kemudian,
ada telepon dari Bantaeng dan aku pun mengangkatnya. Keluarga di sana ingin
menanyakan dimana Abaku akan dikebumikan? Aku pun tak tahu jawabannya dan
bertanya pada Ummiku. Beliau berkata Aba dikebumikan di Makassar. Tak
berlangsung lama, kakek ku berkata, “Kubur saja di Bantaeng di kuburan keluarga
tetapi jangan pas di dekat kuburannya Nenek Ummi. Letakkan di sudut kiri.” Yah,
sebenarnya Abaku bukan anak kandungnya, namun karena, katanya, Abaku termasuk
menantu kesayangannya maka ia berhak mendapatkannya. Subhanallah….
Setelah itu, aku pun mulai mendengar para tamu yang berdatangan
menanyakan segala sesuatu yang terjadi pada Abaku dan keluarga yang ditinggalkan.
Mereka sangat kasihan terhadap adik bungsuku karena waktu itu ia baru berumur 2
tahun, ia belum merasakan kasih sayang seorang ayah sedikit pun. Tiba-tiba ku lihat
adikku, Hafid, di sudut ruangan menyendiri sambil terisak. Aku pun bertanya
dalam hati, “Mengapa semua orang sudah menangis bahkan adik ku pun ikut
menangis? Mengapa hanya saya seorang diri yang belum meneteskan air mata?
Nyatakah ini?” Saat itu, aku sepertinya masih belum percaya dengan kejadian
ini, fakta bahwa Abaku sudah meninggal. Lama ku merenung sambil ku cium jidat
Aba, akhirnya aku pun terduduk di sampingnya sambil terdiam. Aku pun tersadar
bahwa ABAKU BETUL-BETUL SUDAH MENINGGAL DUNIA! Barulah air mata itu menetes
satu per satu tanpa henti. Setelah itu, terekam kembali di benakku semua
kejadian yang sudah kualami bersamanya. Saat beliau menyuapiku, memandikanku,
mengajarkanku berbagai hal, mengajakku jalan-jalan ke pasar, mengajariku sampai
bisa mengendarai sepeda meskipun saat itu separuh badannya yang sebelah kiri
sudah lumpuh. Aku merindukan semua kejadian itu. Ya, saat itulah baru ku air
mataku menetes tanpa suara.
Hal yang mengagetkan kami, tiba-tiba kakekku berkata, “Mungkin
Abamu belum meninggal, kakinya masih hangat.” Aku tak paham maksudnya, aku
hanya sedikit terkejut. Namun, tetap saja orang berkata kalau Abaku sudah
meninggal dunia.
Menjelang shalat dzuhur, barulah Abaku dimandikan itupun dengan berbagai
pertimbangan mengingat masih ada 3 orang kakak ku yang ditunggu kedatangannya
kembali ke Makassar. Mereka sedang merantau untuk menuntut ilmu, kakakku yang
pertama di Jakarta, yang ke-2 di Yogyakarta, dan yang ke-3 di Semarang. Namun,
yang ditunggu hanya kakak pertama dan k-2 karena yang ke-3 belum mendapat
tiket. Setelah itu, ia segera dibawa ke masjid kampus Unismuh Makassar untuk
dishalatkan setelah orang berjama’ah shalat dzuhur. Setelah itu, barulah kami
berangkat ke Bantaeng. Selang waktu 3 jam, kami pun sampai dan segeralah orang-orang
menyambut kami. Kakakku yang ke-6, ia memang tinggal di Bantaeng, juga ikut
menyambut amid an segera melihat mayat Abaku. Namun hanya tubuh berkain kafan
yang bisa ia lihat dan wajahnya yang terbuka. Ia pun menangis.
Saat aku ikut masuk ke kuburan tersebut, dalam perjalanan tiba-tiba
aku menginjak tai sapi. Dalam hati ku berkata, “Sialnya aku, mengapa di
saat-saat seperti ini? Hufh…” (Jika ku mengingat kembali kejadian itu, aku
hanya bisa tertawa… hahaha…). Lalu ku bersihkan sendalku dan segera mengarah ke
kuburan untuk melihat Abaku yang terakhir kalinya. Namun baru melihat sebentar ke
liang kubur tersebut saat Abaku diturunkan oleh kakakku, tiba-tiba seorang
warga menarikku menjauh dari kuburan. Aku heran dan ingin memberontak, namun ia
langsung berkata, “Jangan mendekat nanti kamu ikut jatuh ke dalamnya!” Ia berpikir
mungkin bisa jadi saya ikut turun ke bawah. Aku hanya ingin tertawa, tidak
mungkinlah aku melakukan hal demikian. Aku masih waras. Tapi biarlah, aku
berpikir positif karena masih ada yang memperdulikanku sekeluarga.
Setelah berdoa, kami pun pulang ke rumah di Jl. Nenas. Di sana
sudah banyak orang berkumpul. Langit pun ikut bersedih. Aku masuk, salaman
dengan beberapa orang yang ku kenal lalu masuk ke dalam rumah mandi dan tidur. Aku
ingin melupakan sejenak kejadian hari ini, mungkin aku hanya bermimpi, begitu
pikirku.
Sore harinya, kami pun kembali ke Makassar karena masih banyak tamu
yang datang dan tanteku, kakak dari Abaku, akan berangkat haji keesokan harinya.
Saat sampai di Makassar, tak lama kemudian kakakku yang ke-3 datang dan hanya
bisa menangis. Kasihan kakakku, ia tak dapat melihat Abaku untuk terakhir
kalinya. Mungkin terakhir ia melihatnya saat lebaran Idul Fitri. Hal yang patut
disyukuri, Uwak, panggilan tanteku, masih diberi kesempatan oleh Allah untuk
melihat adiknya sebelum ia berangkat haji.
Subuh harinya, sebagian besar keluargaku mengantarnya. Aku tak
berniat ikut mengingat hari itu aku ada ujian sekolah. Aku pun meminta izin
kepada Ummiku untuk pergi sekolah. Sebenarnya, ia belum mengizinkanku, namun
aku bersikeras untuk tetap pergi karena aku tak suka ujian sendiri. Bukan karena
ingin menyontek, tetapi suasananya berbeda saat ujian sendiri dan ujian bersama
teman-teman yang lain. Aku pun berangkat ke sekolah tanpa modal belajar. Hari itu
ujian matematika, aku sebenarnya takut tidak bisa menjawab soal ujian. Tetapi aku
tetap harus sekolah. Baru sampai di ruang kelas, tak lama kemudian guruku
datang. Saat ia melihatku, ia langsung bertanya,”Meninggalmi katanya bapakmu?”
Dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca aku pun berkata,”Iye, Bu kemarin.” Ia
pun berkata,”Sabarki nah!” Jeeesss…. Air mata pun jatuh, aku segera keluar
kelas untuk mencuci muka sebelum ujia berlangsung. Saat ujian, aku tak bisa
berpikir dan tak berhasil menjawab satu nomor pun soal matematika tersebut
hingga waktu ujian berakhir. Aku pun pasrah saat sebagian besar temanku
mengumpulkan kertas jawabannya. Setelah ku kumpulkan kertas jawabanku, aku
segera keluar kelas lalu menangis. Aku berkata dalam hati,”Seandainya tadi aku
tidak pergi sekolah mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.” Hampir seharian
di sekolah aku menangis, namun aku tetap berusaha untuk tegar saat
teman-temanku mendatangiku dan menanyakan kabarku. Ya, itulah ujian yang paling
buruk yang pernah ku alami. Bukan hanya itu, saat penerimaan rapor pun
peringkatku menurun. Wali kelasku berkata,”Mungkin karena bapaknya baru-baru
meninggal makanya ujiannya pada kacau.” Yah, memang itulah yang terjadi.
Sabarlah….!!!
Mengingat hadits
berikut yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan
Ahmad:
عَنْ
أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ
عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)
“Apabila
seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah
jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang
mendo’akannya”.
Maka aku pun selalu mendoakan beliau…
“Ya Allah, tempatkanlah ia di surgamu. Luaskanlah kuburannya,
terangilah kuburannya, dan bahagiakanlah ia di dalam kuburnya jangan Engkau
menyiksanya. Aamin…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar