JERITAN HATI SEORANG KADER
JERITAN HATI SEORANG KADER

Sedih rasanya melihat keadaan ikatanku saat ini. Penuh dengan rasa
amarah, kebencian, permusuhan, dan ketidakadilan. Hal ini terjadi akibat
ketidakseragaman persepsi mengenai kepemimpinan perempuan.
Sebagian besar IMMawan berpendapat bahwa perempuan, dalam hal ini
IMMawati, tidak diperbolehkan untuk menjadi seorang pemimpin karena itu sudah
menjadi kodratnya seperti yang sudah tercantum dalam QS. An-Nisa: 34 yang artinya:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Selain itu, mereka pun berpendapat bahwa jika seorang IMMawati yang
menjadi pemimpin maka ia hanya akan menyelesaikan masalah-masalah internal dan
jika sudah ada masalah-masalah eksternal maka ia tidak dapat bertindak lebih
banyak dibandingkan IMMawan. Intinya IMMawan-lah yang bisa menjaga ikatan ini
dari serangan-serangan luar yang kadang tidak bisa kita duga.
IMMawati pun tidak mau kalah. Menurut pemahaman mereka, berdasarkan
kajian yang pernah mereka dengar dari seorang Ayahanda, bahwa ayat di atas
hanya berlaku dalam urusan rumah tangga dan tidak berlaku dalam urusan
berorganisasi. Jadi, tidak ada larangan bagi IMMawati untuk maju menjadi
seorang pemimpin. Beberapa IMMawati pun pernah menyampaikan bahwa mereka tidak
akan maju atupun mendukung seorang IMMawati untuk menjadi pemimpin jika masih
ada IMMawan yang lebih pantas untuk jabatan tersebut. Intinya, mereka hanya
berniat untuk memajukan IMM. Itu alasan mereka.
Oleh karena ketidakseragaman pendapat
tersebut, maka pada saat pelaksanaan Musyawarah Komisariat (Musykom) terjadilah
‘Perang Dingin’ antara IMMawan dan IMMawati. Mereka pun berusaha untuk
meng-gol-kan orang yang mereka usung untuk menjadi seorang pemimpin di
komisariat tersebut. Entah darimana asalnya, ketidakadilan pun terjadi melalui
kecurangan baik yang terorganisir maupun tidak terorganisir dengan baik. Sayangnya,
akibat kejadian tersebut maka terjadilah peperangan yang begitu sengit dan
berujung pada permusuhan.
Kejadian ini mengingatkanku pada pesan kakekku tercinta, S. Majidi,
Alm. Beliau berpesan bahwa “Politik itu akan merusak persaudaraan, bahkan
persaudaraan yang sudah lama kita jalin”
Pesan ini sangat bermakna karena inilah yang sering kita saksikan.
Entah itu dunia partai politik ataupun organisasi yang mengandung nilai-nilai
politik di dalamnya.
Apakah kita menginginkan persaudaraan ini terputus hanya karena
masalah ini? Akankah ikatan ini akan terputus menjadi ‘lidi-lidi yang tercerai
berai akibat ikatan sapu lidi yang putus’?
Sungguh sangat disayangkan jika itu terjadi!!!
Kemana pesan ikatanku yang selalu mengatakan bahwa ‘urusan di laut
selesaikan di laut dan urusan darat selesaikan di darat’? Apakah pesan itu
hanya berlaku untuk kader-kader yang mengikuti proses pengkaderan? Tidak
bisakah pesan itu juga digunakan dalam kondisi saat ini?
Katanya ini hanyalah sebuah dinamika. Kalau pun ini sebuah
dinamika, apakah dinamika ini akan merusak persaudaraan kita?
Ikatan ini terlalu suci untuk dihancurkan oleh dunia perpolitikan.
Ikatan ini tidak pernah salah, yang salah adalah orang-orang yang berperan di
dalamnya. Sekali lagi, ikatan ini terlalu suci wahai saudara seperjuangan!!!
Mengapa kita tidak saling bersatu untuk menjaga ikatan ini? Mengapa
kita begitu egois menghancurkan ikatan ini demi kepentingan masing-masing?
Akankah kekecewaan ini kembali menyalahkan ikatan seperti yang
sudah dilakukan oleh beberapa kader-kader yang tidak bertanggung jawab? Ikatan
ini tidak pernah salah, jadi jangan pernah mengatakan bahwa kalian kecewa
terhadap ikatan ini. Akan tetapi, katakanlah bahwa kalian kecewa pada
orang-orang yang ada di dalamnya.
Begitu egoisnya kah kalian meninggalkan ikatan ini atas dasar
kekecewaan yang kalian rasakan? Bisakah kalian tetap tinggal untuk memperbaiki
kondisi ikatan ini jika memang kalian merasa terlalu banyak yang salah dalam
menjalankan ikatan ini?
Ikatan ini butuh kader-kader yang tangguh. Ikatan ini butuh
kader-kader yang jujur. Ikatan ini butuh kader-kader yang berani menegakkan
kebenaran. Ikatan ini butuh rasa persaudaraan.
Bisakah kita bersikap dewasa untuk mengambil hikmah dari setiap
kejadian yang sudah terjadi? Ingatlah wahai IMMawan IMMawati, Allah selalu
menitipkan hikmah dibalik setiap kejadian. Mungkin saat ini belum kita rasakan,
tetapi suatu saat nanti.
Bisakah kita tetap bersama-sama menjaga ikatan ini? Sungguh, ikatan
ini tidak hanya membutuhkan IMMawan, ikatan ini juga tidak hanya membutuhkan
IMMawati, tetapi ikatan ini membutuhkan IMMawan dan IMMawati. Karena dengan
begitu kita bisa saling mengisi kekurangan masing-masing melalui
kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Percayalah!!!
Seandainya tidak ada rasa cinta di dalam hati ini terhadapa ikatan,
mungkin tidak ada rasa kepedulian yang bakal tersebersit dalam hati ini.
Sungguh….!!!
Ya Allah, selamatkan kami dari bisikan-bisikan ‘syaithon’ yang
bakal merusak persaudaraan kami!!!
Aaamin…..
DAMN, I LOVE IMM!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar