Entri Populer

Kamis, 07 Maret 2013

JERITAN HATI SEORANG KADER

JERITAN HATI SEORANG KADER

Sedih rasanya melihat keadaan ikatanku saat ini. Penuh dengan rasa amarah, kebencian, permusuhan, dan ketidakadilan. Hal ini terjadi akibat ketidakseragaman persepsi mengenai kepemimpinan perempuan.

Sebagian besar IMMawan berpendapat bahwa perempuan, dalam hal ini IMMawati, tidak diperbolehkan untuk menjadi seorang pemimpin karena itu sudah menjadi kodratnya seperti yang sudah tercantum dalam QS. An-Nisa: 34 yang artinya:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Selain itu, mereka pun berpendapat bahwa jika seorang IMMawati yang menjadi pemimpin maka ia hanya akan menyelesaikan masalah-masalah internal dan jika sudah ada masalah-masalah eksternal maka ia tidak dapat bertindak lebih banyak dibandingkan IMMawan. Intinya IMMawan-lah yang bisa menjaga ikatan ini dari serangan-serangan luar yang kadang tidak bisa kita duga.

IMMawati pun tidak mau kalah. Menurut pemahaman mereka, berdasarkan kajian yang pernah mereka dengar dari seorang Ayahanda, bahwa ayat di atas hanya berlaku dalam urusan rumah tangga dan tidak berlaku dalam urusan berorganisasi. Jadi, tidak ada larangan bagi IMMawati untuk maju menjadi seorang pemimpin. Beberapa IMMawati pun pernah menyampaikan bahwa mereka tidak akan maju atupun mendukung seorang IMMawati untuk menjadi pemimpin jika masih ada IMMawan yang lebih pantas untuk jabatan tersebut. Intinya, mereka hanya berniat untuk memajukan IMM. Itu alasan mereka.

  Oleh karena ketidakseragaman pendapat tersebut, maka pada saat pelaksanaan Musyawarah Komisariat (Musykom) terjadilah ‘Perang Dingin’ antara IMMawan dan IMMawati. Mereka pun berusaha untuk meng-gol-kan orang yang mereka usung untuk menjadi seorang pemimpin di komisariat tersebut. Entah darimana asalnya, ketidakadilan pun terjadi melalui kecurangan baik yang terorganisir maupun tidak terorganisir dengan baik. Sayangnya, akibat kejadian tersebut maka terjadilah peperangan yang begitu sengit dan berujung pada permusuhan.

Kejadian ini mengingatkanku pada pesan kakekku tercinta, S. Majidi, Alm. Beliau berpesan bahwa “Politik itu akan merusak persaudaraan, bahkan persaudaraan yang sudah lama kita jalin”

Pesan ini sangat bermakna karena inilah yang sering kita saksikan. Entah itu dunia partai politik ataupun organisasi yang mengandung nilai-nilai politik di dalamnya.

Apakah kita menginginkan persaudaraan ini terputus hanya karena masalah ini? Akankah ikatan ini akan terputus menjadi ‘lidi-lidi yang tercerai berai akibat ikatan sapu lidi yang putus’?

Sungguh sangat disayangkan jika itu terjadi!!!

Kemana pesan ikatanku yang selalu mengatakan bahwa ‘urusan di laut selesaikan di laut dan urusan darat selesaikan di darat’? Apakah pesan itu hanya berlaku untuk kader-kader yang mengikuti proses pengkaderan? Tidak bisakah pesan itu juga digunakan dalam kondisi saat ini?

Katanya ini hanyalah sebuah dinamika. Kalau pun ini sebuah dinamika, apakah dinamika ini akan merusak persaudaraan kita?

Ikatan ini terlalu suci untuk dihancurkan oleh dunia perpolitikan. Ikatan ini tidak pernah salah, yang salah adalah orang-orang yang berperan di dalamnya. Sekali lagi, ikatan ini terlalu suci wahai saudara seperjuangan!!!

Mengapa kita tidak saling bersatu untuk menjaga ikatan ini? Mengapa kita begitu egois menghancurkan ikatan ini demi kepentingan masing-masing?

Akankah kekecewaan ini kembali menyalahkan ikatan seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa kader-kader yang tidak bertanggung jawab? Ikatan ini tidak pernah salah, jadi jangan pernah mengatakan bahwa kalian kecewa terhadap ikatan ini. Akan tetapi, katakanlah bahwa kalian kecewa pada orang-orang yang ada di dalamnya.

Begitu egoisnya kah kalian meninggalkan ikatan ini atas dasar kekecewaan yang kalian rasakan? Bisakah kalian tetap tinggal untuk memperbaiki kondisi ikatan ini jika memang kalian merasa terlalu banyak yang salah dalam menjalankan ikatan ini?

Ikatan ini butuh kader-kader yang tangguh. Ikatan ini butuh kader-kader yang jujur. Ikatan ini butuh kader-kader yang berani menegakkan kebenaran. Ikatan ini butuh rasa persaudaraan.

Bisakah kita bersikap dewasa untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian yang sudah terjadi? Ingatlah wahai IMMawan IMMawati, Allah selalu menitipkan hikmah dibalik setiap kejadian. Mungkin saat ini belum kita rasakan, tetapi suatu saat nanti.

Bisakah kita tetap bersama-sama menjaga ikatan ini? Sungguh, ikatan ini tidak hanya membutuhkan IMMawan, ikatan ini juga tidak hanya membutuhkan IMMawati, tetapi ikatan ini membutuhkan IMMawan dan IMMawati. Karena dengan begitu kita bisa saling mengisi kekurangan masing-masing melalui kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Percayalah!!!

Seandainya tidak ada rasa cinta di dalam hati ini terhadapa ikatan, mungkin tidak ada rasa kepedulian yang bakal tersebersit dalam hati ini. Sungguh….!!!

Ya Allah, selamatkan kami dari bisikan-bisikan ‘syaithon’ yang bakal merusak persaudaraan kami!!!

Aaamin…..

DAMN, I LOVE IMM!!!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar