Entri Populer

Selasa, 03 Mei 2011

Kasus Pembunuhan Adik Kandung

Saat kelas 3 SD. Saat itu, saya belum satu sekolah dengan adikku. Saya sekolah di SDN Inpres BTN Ikip I, sedangkan dia sekolah di SDN Labuang Baji II. Makanya, dia berangkat dengan sepupuku yang laki-laki dan diantar naik mobil sedang saya bersama sepupuku yang perempuan berangkat ke sekolah dengan jalan kaki.

Pagi itu di atas tempat tidur, sekitar pukul 07.00 pagi, saya sedang merapikan dan mengambil buku-buku yang kubutuhkan sesuai jadwal mata pelajaran hari itu. Sementara kumengatur buku-bukuku, adikku (Hafid) juga masuk ke kamar dan mengatur buku-bukunya seperti yang kulakukan. Entah apa yang dikatakannya, saya sudah lupa, intinya saat itu dia membuatku begitu jengkel sepertinya saat itu dia sedang mencelaku. Tiba-tiba emosiku menguasai seluruh tubuhku, kupukul dia dan dia pun melawan. Bertambah jengkellah diriku kepadanya. Kami pun saling memukul dan menendang di pagi itu. Entah setan dari mana yang merasuki tubuhku, saat aku mendapat kesempatan menjatuhkannya di atas tempat tidur, aku pun menginjak perutnya.

Dia pun langsung teriak sekencang-kencangnya, “ABAAA…..UMMIIIII…..”

Ummi pun datang dan masuk ke kamar kami disusul Aba yang masih setia dengan tongkatnya, waktu itu ia dalam proses penyembuhan dari kelumpuhan.

Ummi langsung teriak dan marah, “Bahjaaaah,,, kau apai ade’mu??? Angkat kakimu sekarang dari atas perutnya!!!” Aku pun spontan mengangkatnya lalu adikku pun langsung berada dalam pelukan Ummiku sambil terisak-isak.

Masih dalam posisi berdiri di atas tempat tidur, Aba pun langsung angkat bicara sambil memukul-mukulkan tongkatnya di pinggiran tempat tidur membuat diriku gemetar ketakutan, “Astaghfirullah…Bahjaah, berapa kali Aba bilang…. Kaki itu untuk menendang bola, bukan untuk menendang orang apalagi sampai menginjak perutnya ade’mu!!!”

Kaget saat menyadari apa yang telah kulakukan hampir membunuh adik kandungku sendiri ditambah dengan omelan dari kedua orang tuaku, mataku pun mulai berkaca-kaca dan akhirnya mengalirlah air mataku. Hari itu, tak ada yang membelaku. Sedih… sangat sedih…. Itu yang kurasakan. Kaget karena tak menyangka diriku bisa melakukan hal yang seanarkis seperti tadi.

Kemudian Abaku bicara, “Sudaaah,,, berhenti menangis dan pergilah cepat ke sekolah. Nanti telat.”

Dengan kepala tertunduk sambil terisak-isak kuambil tas ranselku, “Iye’, pergima Aba…Ummi...” sambil kucium tangan mereka. Lalu aku pun pergi ke rumah sepupuku yang jaraknya ± 1m dari rumahku dan kutinggalkan rumah dalam keadaan galau.

Di sepanjang perjalanan aku pun merenung dan masih memikirkan apa yang tadi kulakukan. Di benakku hanya muncul pertanyaan, “Mengapa saya bisa melakukan hal seperti tadi???” BAYANGKAN SAJA, SAYA HAMPIR MEMBUNUHNYA!!! Seandainya ia tak segera berteriak, mungkin ia sudah meninggal hari itu. Ya Allah, tidak pernah terbersit sebelumnya dipikiranku untuk membunuh adikku sendiri. Bulu kudukku berdiri lagi saat kubayangkan diriku ditangkap polisi dan masuk penjara dengan “KASUS PEMBUNUHAN ADIK KANDUNG”.

Astaghfirullah... Ampuni hamba-Mu, ya Allah…

Aba…Ummi… maafkan anakmu yang kelewat batas hari itu….

Hafid, adikku… maafkan kakakmu yang hampir saja membuatmu tak bernapas hari itu…

“Subhanallah,,, jika memang belum sampai ajal kita hidup di dunia ini, selalu saja Allah memberikan jalan agar kita tetap hidup walaupun nyawa kita sudah di ujung tanduk.”

Kejadian itu tak pernah hilang dari benakku hingga sekarang. Betul-betul pelajaran hidup untuk tidak mengandalkan emosi saat marah dan pilihan yang lebih baik adalah diam dan sabar…. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar