Entri Populer
-
Saat kelas 3 SD. Saat itu, saya belum satu sekolah dengan adikku. Saya sekolah di SDN Inpres BTN Ikip I, sedangkan dia sekolah di SDN Labu...
-
Umamah Taghlubiyah, seorang wanita Arab terpandang dari keluarga yang terhormat, menasihat anaknya, ummu iyas binti Auf. Nasihat ini disam...
-
JERITAN HATI SEORANG KADER Sedih rasanya melihat keadaan ikatanku saat ini. Penuh dengan rasa amarah, kebencian, permusuhan, dan keti...
-
Hari ini, Telah lahir cerita baru, kisah yang baru Bukan dongeng putri salju dan tujuh kurcacinya Bukan legend...
-
Orang sering keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri; Bagaimana pun maafkanlah. Bila engkau baik hati, bisa saja...
-
Aku masih ingat waktu itu saya dan Aba sedang duduk-duduk di ruang tamu rumah. Tiba-tiba seorang laki-laki datang, sambil membawa jam dindin...
-
Jum’at, 25 Januari 2013 Hari ini mengingatkanku kembali pada kejadian 12 tahun silam. Tak terasa ternyata kejadian itu sudah lama, nam...
-
Bingung sendiri mau nulis apa...ckckck.... cuman mau bilang.... "Love u Mom...!!!" buat Ummiku tercinta yang tiap pagi membuatkank...
-
Tiba-tiba rasa rindu merasuki jiwaku.... Lama tak ku sapa "beliau".... Lama tak ku jenguk "beliau".... Hatiku mulai b...
-
Tiba-tiba saja ku dengar suara anak kecil menangis saat ku sedang asyik membaca jurnal-jurnal penelitian di kamar Ummi. "Mmm...siapa la...
Selasa, 24 Mei 2011
cuman mau bilang....
"Love u Mom...!!!"
buat Ummiku tercinta yang tiap pagi membuatkanku secangkir sereal buat sarapan pagi...
takut anaknya kelaparan di kampus katanya... soalnya anaknya sudah berangkat skitar jam 7 pagi dan pulangnya sore hari atau malam hari bahkan bisa tak pulang ke rumah saking sibuknya....
sampai di rumah, kalo dah malam, selalu saja ditanya, "sudah makan???" klau jawabannya belum, dia akan berusaha memasakkan anaknya soalnya klau tidak, pasti anaknya tidak makan.....
ya Allah,,,,berilah Ummiku kesehatan....jaga dia,,,,lindungi diaa.....Aaminn....
Sabtu, 14 Mei 2011
cabut gigi gratis
Kakakku, Umminya Salsa, masuk ke dalam kamar diikuti langkah Salsa yang sedang menangis sambil memegang gusinya yang berdarah.
Kakakku berkata, "Ummi juga dulu begitu....Nenek langsung cabut gigi ta kalau sudah goyang... nd usahmi nangis..pergimi kumur-kumur dulu..."
Salsa pun masuk ke kamar mandi untuk kumur-kumur sambil terisak-isak.
"Sakiittt Ummiii,,,,masih berdarah...", ia terus menangis sambil meringis kesakitan.
Ummi, Nenek Salsa, pun berkata, "Berhentimi menangis,,,nanti tambah berdarah...gigit saja kapas terus..nanti berhenti sendiri jie itu..."
Hmm...Jadi teringat masa lalu saat gigiku mulai goyang, aku pun mengadu pada Ummi..
"Ummi, goyang gigiku...."
"Yang mana???"
Sambil ku pegang gigiku yang goyang, "Yang ini, tapi Janganki cabutki....!!!"
"Iya, sini mi..."
Pas dipegang oleh Ummi,,,, tiba-tiba.... "Kkkrrrreeeekkkkkk....."
Aku pun teriak menangis kesakitan, "Ummi nacabutki....kenapaki cabutki??? sakiiittt...."
"Daripada goyang terus,,,tumbuh nanti gigi barumu...congkang ko nanti..."
Hhe..ku bayangkan gigiku congkang (bersusun-susun)....jd ngeri sendiri...
Tapi sejak itu, saat gigiku goyang...ku baru mengadu ke Ummi kalau ku sudah siap...
Ummi memang berbakat jadi dokter gigi,,,,Hahaha.....:D
Kamis, 05 Mei 2011
Laa Tahzan for Teens
Orang sering keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri;
Bagaimana pun maafkanlah.
Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih;
Bagaimana pun berbaik hatilah.
Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberpaa teman palsu dan beberapa teman sejati;
Bagaimana pun jadilah sukses.
Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
Bagaimana pun, jujur dan terbukalah.
Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain dalam semalam;
Bagaimana pun bangunlah.
Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;
Bagaimana pun berbahagialah.
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; bagaimana pun berbuat baiklah.
Bagaimana pun, berikanlah yang terbaik darimu.
Engkau lihat, akhirnya ini adalah urusan antara engkau dengan Tuhanmu; bagaimana pun ini bukan urusan antara engkau dengan mereka.
(Bunda Theresa)
***Nb: dikutip dari Laa tahzan for teens....
Selasa, 03 Mei 2011
Kasus Pembunuhan Adik Kandung
Saat kelas 3 SD. Saat itu, saya belum satu sekolah dengan adikku. Saya sekolah di SDN Inpres BTN Ikip I, sedangkan dia sekolah di SDN Labuang Baji II. Makanya, dia berangkat dengan sepupuku yang laki-laki dan diantar naik mobil sedang saya bersama sepupuku yang perempuan berangkat ke sekolah dengan jalan kaki.
Pagi itu di atas tempat tidur, sekitar pukul 07.00 pagi, saya sedang merapikan dan mengambil buku-buku yang kubutuhkan sesuai jadwal mata pelajaran hari itu. Sementara kumengatur buku-bukuku, adikku (Hafid) juga masuk ke kamar dan mengatur buku-bukunya seperti yang kulakukan. Entah apa yang dikatakannya, saya sudah lupa, intinya saat itu dia membuatku begitu jengkel sepertinya saat itu dia sedang mencelaku. Tiba-tiba emosiku menguasai seluruh tubuhku, kupukul dia dan dia pun melawan. Bertambah jengkellah diriku kepadanya. Kami pun saling memukul dan menendang di pagi itu. Entah setan dari mana yang merasuki tubuhku, saat aku mendapat kesempatan menjatuhkannya di atas tempat tidur, aku pun menginjak perutnya.
Dia pun langsung teriak sekencang-kencangnya, “ABAAA…..UMMIIIII…..”
Ummi pun datang dan masuk ke kamar kami disusul Aba yang masih setia dengan tongkatnya, waktu itu ia dalam proses penyembuhan dari kelumpuhan.
Ummi langsung teriak dan marah, “Bahjaaaah,,, kau apai ade’mu??? Angkat kakimu sekarang dari atas perutnya!!!” Aku pun spontan mengangkatnya lalu adikku pun langsung berada dalam pelukan Ummiku sambil terisak-isak.
Masih dalam posisi berdiri di atas tempat tidur, Aba pun langsung angkat bicara sambil memukul-mukulkan tongkatnya di pinggiran tempat tidur membuat diriku gemetar ketakutan, “Astaghfirullah…Bahjaah, berapa kali Aba bilang…. Kaki itu untuk menendang bola, bukan untuk menendang orang apalagi sampai menginjak perutnya ade’mu!!!”
Kaget saat menyadari apa yang telah kulakukan hampir membunuh adik kandungku sendiri ditambah dengan omelan dari kedua orang tuaku, mataku pun mulai berkaca-kaca dan akhirnya mengalirlah air mataku. Hari itu, tak ada yang membelaku. Sedih… sangat sedih…. Itu yang kurasakan. Kaget karena tak menyangka diriku bisa melakukan hal yang seanarkis seperti tadi.
Kemudian Abaku bicara, “Sudaaah,,, berhenti menangis dan pergilah cepat ke sekolah. Nanti telat.”
Dengan kepala tertunduk sambil terisak-isak kuambil tas ranselku, “Iye’, pergima Aba…Ummi...” sambil kucium tangan mereka. Lalu aku pun pergi ke rumah sepupuku yang jaraknya ± 1m dari rumahku dan kutinggalkan rumah dalam keadaan galau.
Di sepanjang perjalanan aku pun merenung dan masih memikirkan apa yang tadi kulakukan. Di benakku hanya muncul pertanyaan, “Mengapa saya bisa melakukan hal seperti tadi???” BAYANGKAN SAJA, SAYA HAMPIR MEMBUNUHNYA!!! Seandainya ia tak segera berteriak, mungkin ia sudah meninggal hari itu. Ya Allah, tidak pernah terbersit sebelumnya dipikiranku untuk membunuh adikku sendiri. Bulu kudukku berdiri lagi saat kubayangkan diriku ditangkap polisi dan masuk penjara dengan “KASUS PEMBUNUHAN ADIK KANDUNG”.
Astaghfirullah... Ampuni hamba-Mu, ya Allah…
Aba…Ummi… maafkan anakmu yang kelewat batas hari itu….
Hafid, adikku… maafkan kakakmu yang hampir saja membuatmu tak bernapas hari itu…
“Subhanallah,,, jika memang belum sampai ajal kita hidup di dunia ini, selalu saja Allah memberikan jalan agar kita tetap hidup walaupun nyawa kita sudah di ujung tanduk.”
Kejadian itu tak pernah hilang dari benakku hingga sekarang. Betul-betul pelajaran hidup untuk tidak mengandalkan emosi saat marah dan pilihan yang lebih baik adalah diam dan sabar…. J
Kisahku, Gerbang Biru , dan Mereka

Hari ini,
Telah lahir cerita baru, kisah yang baru
Bukan dongeng putri salju dan tujuh kurcacinya
Bukan legenda Tangkuban perahu dan Sangkuriangnya
Tapi ini adalah ceritaku
Kisahku dengan mereka di Gerbang Biru
Yah....
Matahari telah terbit, kemarin juga begitu,

Minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, dan sekian tahun yang lalu
Masih juga begitu, masih setia di peraduannya
Siap menjadi saksi untuk setiap jengkal langkahku dengan mereka
Setiap goresan ceritaku dengan mereka
Setiap tetesan air mataku dengan mereka
Setiap raungan teriakku dengan mereka
Dan setiap tidur lelapku dengan mereka
Di Gerbang Biru ini...
Mereka...tetap mereka!!!!

Sahabat, sobat, saudara...
Dan beginilah ceritanya!
Pada suatu hari yang lampau
Kala kusentuhkan jariku di sini dan kulangkahkan kakiku di sini
Di Gerbang Biru...
Aku belum tahu apa-apa, apa saja tentang diriku dan kehidupannya
Lalu mereka datang...menyambutku...memelukku...merangkulku...sangat erat!!!
Dan Gerbang Biru menjadi saksi
Namun, tak jarang aku goyah!

Tak jarang aku jengkel, benci, bahkan marah di sini!!!
Sering aku muak dengan omong kosong yang ada di sini
Dan seketika...
Kaca-kaca beling itu terlontar begitu saja
Menancap di jantungku
Tapi entah mengapa
Kaca-kaca itu hanya menancap, namun tak menyakitiku
Ada sebersit kesabaran di hati
Ada secercah maaf di hati ini
Maka, akhir cerita...
Tidak seperti dongeng Putri Salju dan tujuh kurcacinya

Tidak seperti dongeng Putri Tidur yang hidup bahagia bersama pangeran selamanya
Tapi...
Cerita ini berakhir dengan kenyataan pahit
Aku, mereka, dan Gerbang Biru
Harus berpisah!!!
“Ummul Mukminin pesantrenku yang takkan kulupa....”(Mars Ummul Mukminin)

Sobat....
Sudah tiba waktunya untuk melepaskan genggaman tangan
Dan kini, genggamlah tangan yang lain
Tapi ku sangat berharap, jangan pernah hilang darimu
Seumur hidup bahwa kita pernah saling menggenggam

Gerbang Biru...
Sudah tiba waktunya untuk melangkahkan kakiku keluar darimu
Dan kini...
Jadilah saksi untuk kisah yang lain
Tapi kusangat berharap....
Jangan pernah hilang darimu
Bahwa kau pernah menjadi bagian dari saksi cerita hidupku
Yah....
Simpan kisahku dengan mereka
Di sini!!!
Di Gerbang Biru......
Created by:
Ayu Sartika Hiasyah
NASIHAT SEBELUM WANITA MENIKAH
Umamah Taghlubiyah, seorang wanita Arab terpandang dari keluarga yang terhormat, menasihat anaknya, ummu iyas binti Auf. Nasihat ini disampaikan ketika melepas putrinya itu menuju rumah suaminya saat dia dinikahkan.
Dia berkata, “Anakku, jika nasihat boleh ditinggalkan karena kemuliaan budi dan ketinggian nasab keturunan, maka aku tidak perlu lagi menyampaikannya padamu. Namun ia perlu disampaikan untuk mengingatkan orang yang baik dan menyadarkan orang yang lalai.
Wahai anakku, jika seorang perempuan bisa melepaskan diri dari laki-laki dengan harta orang tuanya maka aku adalah orang yang paling bisa untuk itu. Tapi itu tidak mungkin, anakku. Karena perempuan diciptakan untuk laki-laki. Dan sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk perempuan.
Wahai anakku, saat ini engkau akan melangkah dari rumah dimana kamu hidup dan dibesarkan selama ini. Kamu akan berangkat ke lembah yang belum kamu ketahui sama sekali, dan akan ditemani seorang yang tidak pernah kau kenal sebelumnya. Makanya, dengarlah pesan-pesanku. Jadilah engkau bagaikan budak baginya, maka dia akan berlaku seperti itu pula untukmu.
Pertama, setia dan patuhlah padanya. Kepatuhanmu padanya akan melahirkan keridhaan Tuhan.
Kedua, qana’ah (terima apa adanya) dengan apa yang diberinya. Sikap itu akan melahirkan ketenangan dalam jiwamu.
Ketiga, peliharalah pandangannya padamu. Jangan sampai dia melihat padamu sesuatu yang tidak disenanginya.
Keempat, pelihara penciumannya terhadapmu. Jangan sampai dia mencium darimu sesuatu yang tidak mengenakkan hidungnya.
Kelima, jagalah waktu makannya. Sesungguhnya rasa lapar itu bagaikan bara yang bisa membakar kapan saja.
Keenam. jagalah waktu tidurnya. Sesungguhnya gangguan pada waktu tidur bisa menyulut amarah.
Ketujuh, jagalah harta dan rumahnya. Sesungguhnya yang demikian membuatnya menghargaimu.
Kedelapan, pelihara dan hormatilah anak dan keluarganya. Sesungguhnya hal itu melatihmu mengatur segala sesuatu dengan baik.
Kesembilan, janganlah kamu buka rahasianya. Jika kamu melakukan itu, maka tidak bisa dijamin dia akan menjaga janjinya padamu.
Kesepuluh, janganlah kamu melanggar perintahnya. Sesungguhnya yang demikian itu menyulut rasa cemburu dalam hatinya.
Dan perhatikanlah dua perkara. Janganlah kamu menampakkan kebahagiaan padanya jika dia sedang dirundung sedih. Jangan pula engkau menampakkan kesedihan di kala dia berbahagia.
Ketahuilah anakku, sebesar apa penghormatanmu padanya sebesar itu dia akan menyanjungmu.
Sejauh mana kamu bisa menyesuaikan pandanganmu dengannya seperti itu pula dia akan setia padamu.
Anak gadisku, sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukan itu semua kecuali jika kamu mampu mendahulukan keridhaannya atas keinginan pribadimu, dan jika kamu mampu mengedepankan hasratnya atas hasratmu. Semoga Allah melimpahkan kebaikan padamu. Selamat jalan.
Nasihat yang sangat berharga dari seorang ibu yang baik. Semoga negeri kita juga punya ibu-ibu yang seperti ini. Allahumma amin.