Entri Populer

Minggu, 15 Januari 2012

Tanteku Memang Hebat…!!!


Saat itu, aku masih kelas 2 SD. Aku dan kedua kakakku, K’ Rif’ah dan K’Muflih, tinggal bersama Ami’ Boang (adiknya Aba) dan keluarganya di Bantaeng.
Pagi hari sekitar pukul 06.45, tiba-tiba telpon berdering. K’Muflih pun mengangkatnya. Saat itu, aku baru mau mandi. Saat kuambil handuk, K’Muflih pun bicara setelah meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya semula.
Sambil terisak, ia berkata, “Ummi yang nelpon, katanya kemarin Aba jatuh dari tangga pas naik ke atap rumah dan sekarang ia ada di rumah sakit.”
Aku dan K’Rif’ah hanya bisa diam karena kaget mendengar kabar buruk di pagi itu.
Kebetulan hari itu, Puang Tati (kakaknya Ummi) ada di rumah mendengar pembicaraan kami. Ia pun langsung bertanya, “Kenapa bisa jatuh? Apa dia bikin di atap rumah?”
K’Muflih menjawab, “Ada atap yang rusak, makanya dia mau perbaiki. Tapi dia pasang tangganya di lantai yang licin dekat sumur, makanya pas dia naik tiba-tiba jatuhki. Ummi juga kaget karena Aba pingsan, makanya langsung dibawa ke rumah sakit.”
Tanteku bertanya lagi, “Jadi, bagaimanami keadaannya sekarang?”
K’Muflih menjawab, “Nda mauki nabilang ummiku….”
Kemudian Puang Tati pun berkata, “Turunmeko pagi ini ke Makassar, nak! Minta izin mi dulu nda ke sekolah hari ini.”
Kami pun tidak jadi ke sekolah hari itu. Ku langsung bergegas ke kamar mandi dan siap-siap ke Makassar. Kedua kakakku langsung mengganti baju sekolahnya dan bersiap-siap pula.
Di dalam perjalanan, kami hanya diam terpaku. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di Makassar, kami menuju rumah dan hanya menyimpan tas yang kami bawa. Lalu berangkatlah kami bersama tanteku, namanya Amma’ Upa (adiknya Aba), yang mau juga ke rumah sakit.
Sesampainya di pintu gerbang rumah sakit (RS. Labuang Baji)…..
Kami pun masuk bersama. Tiba-tiba seorang satpam teriak ke arah kami, “Hei, itu anak kecil tidak boleh masuk!!!”
Kami pun kaget. Lalu tanteku pun bertanya, “Siapa yang kita’ maksud, pak?!”
Pak satpam pun menjawab sambil menunjuk ke arahku, “Yang itu, yang paling kecil….”
Tanteku pun bicara baik-baik ke pak satpam itu, “Kenapa nda bisa masuk??? Ada bapaknya masuk rumah sakit. Mauki naliat kasian karena baruki datang dari Bantaeng…. Nda pernahpi naliat”
Pak satpam pun menjawab sambil berkacak pinggang, “Nanti sakitki Bu anakta, makanya nda bisa masuk. Banyak kuman di dalam. Jadi, kasih tinggalmi dulu itu anakta di sini, Bu. Nanti saya yang jagaki.”
Tanteku pun berpikir sebentar lalu memberitahuku apa yang dikatakan pak satpam tadi.
Setelah mendengar penjelasan dari tanteku, perasaanku pun langsung tidak enak dan makin sedih. Lalu aku pun menjawab, “Tidak mauka…..”
Mungkin karena melihat ekspresi wajahku yang sedih, tanteku pun berkata, “Ayo, kembali….!!!”
Kami pun heran dan bertanya dalam hati, “Masa kita pulang dengan sia-sia??? Belumpeki ketemu sama Aba….” Hari itu aku langsung bertanya dalam hati dan mengutuk diriku, “Perasaan besarma….sekolahma…Kenapaka’ dibilangi masih kecil??? Gara-gara saya nda bisameki ketemu sama Aba…..hiks…L
Pak satpam pun heran melihat kami kembali pulang, tapi ia tersenyum karena berhasil membuatku tidak masuk ke dalam rumah sakit itu.

Sesampainya di luar gerbang, tanteku belok ke arah kanan rumah sakit. Karena masih dirundung kesedihan, kami hanya mengikuti jejak langkahnya tanpa berkata sepatah kata pun.
Tiba-tiba kami dikagetkan dengan langkah kaki tanteku yang masuk ke arah rumah sakit lewat pintu yang rusak. Di sana tidak ada pak satpam. Kami masih diam dan tetap mengikuti langkah kakinya karena takut dipergoki pak satpam lagi.
Kami berjalan terus sambil tertunduk-tunduk berusaha tuk bersembunyi melewati semak-semak yang tidak terlalu tinggi. Pas kami hampir memasuki ruangan yang ada di rumah sakit itu, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak, “Oiii…yang di sana…. Anak kecil tidak boleh masuk!!!”.
Kami pun berbalik melihat ke arah teriakan tadi. Ternyata pak satpam. Kami pun lari terbirit-birit masuk ke dalam rumah sakit. Pas sampai di kamar tempat Aba dirawat, kami ngos-ngosan sambil tertawa. Ummi kaget dan bertanya,”Kenapa lari-lari???”
Kami pun berlomba-lomba menjawab sambil ngos-ngosan, “Hahahaha…..dikejarki sama pak satpam gara-gara Bahjah tidak boleh masuk, masih kecilki bede’…..!!!”
Maka, berbahagialah kami bertemu dengan Ummi dan Aba. Kami pun mencium tangan mereka. Aba hanya tersenyum melihat tingkah kami.
“Hahahaha……Tanteku memang hebat!!! Terima kasih karena akhirnya kami bisa bertemu dengan Aba hari itu…..” J
Namun, kami langsung terdiam lagi saat mengetahui kalau kaki dan tangan Aba yang sebelah kiri lumpuh (hemiplegi, istilah kedokterannya). Itulah hari pertama kalinya Aba berurusan dengan rumah sakit dengan penyakit Strok. Hari itu, kami hanya bisa bersabar dan berdo’a semoga Abaku diberi kesembuhan…..

***Baru ku tahu ternyata anak kecil memang dilarang masuk ke rumah sakit karena lebih rentan terkena penyakit dibandingkan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya masih beradaptasi. Istilahnya, belum ada memori dari antibodi untuk mengenali antigen (kuman) yang masuk ke dalam tubuh makanya lebih gampang sakit. J

Jatuh Cinta..., .Boleh Nggak Sih???


Ini pertanyaan sulit. Boleh nggaknya sih, kayaknya nggak mungkin melarang orang jatuh cinta. Itu kan masalah perasaan, masalah hati. Bisa datang kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Apalagi yang disebut cinta pada pandangan pertama. Nggak bisa juga dicegah ketika dia hadir di hati. Tiba-tiba muncul, nggak bisa dipikir dan direncanakan lebih dulu. Siapa yang bisa melarang jatuh cinta seperti ini. Walaupun, jatuh cinta seperti ini terkadang hanya sekedar numpang lewat.
Setelah itu menghasilkan keka guman tanpa ada keinginan untuk memiliki. Atau, sebenarnya sih pengen memiliki, tapi nggak kesampaian. Mungkin menimbang prioritas, “Ah, ilmu aja masih cekak, sudah mikir macem-macem. Cari ilmu dulu lah. Biar fokus ngejar tugas utama. Kalo emang jodoh, nggak akan kemana-mana, nanti ketemu juga.” Bisa jadi pula, karena merasa nggak level, “Cakep, pintar, shalihah. Sedangkan awak gini-gini aja. Penampilan pas-pasan, kecerdasan rata-rata, sedangkan iman masih tanda tanya. Kayaknya nggak level deh, nggak sekufu (sepadan). Harus tahu diri, lah. Kecuali kalo jodoh, siapa tahu juga? Hi..hi....hi...”
Dua kasus diatas tidak akan menghilangkan rasa cinta pelakunya kepada sosok yang memang membuatnya jatuh cinta. Keduanya hanya memendam rasa, tanpa menggebu-gebu ingin memiliki.
Pada kasus pertama, dia jatuh cinta, karena sosok yang membuatnya jatuh cinta itu memang layak dan pantas untuk dicintai. Hanya, kesadaran dirinya bahwa dia punya planning hidup yang harus didahulukan, sehingga dikesampingkannya perasaan itu. Orang seperti ini bisanya mudah menetralisir perasaan jatuh cintanya dengan hal-hal positif prioritas dirinya. Tidak ada masalah dengan orang yang jatuh cinta semacam ini.
Pada kasus kedua, juga tidak ada masalah jika perasaan rendah dirinya diikuti dengan cara pandang yang optimis dan positif. Dalam batasan ini, jatuh cintanya masih wajar. Menjadi masalah kalo dia terpancing berbuat negatif. Mislanya, tenggelam dalam khayalan, apalagi yang kotor dan jorok, atau lengah sehingga terbius pikiran berandai-andai ingin memiliki.
“Uuuuh, andaikan dia....andaikan....dan andaikan.Kenapa ya, kok aku nggak tampan, nggak pinter, kurang shalih lagi.” Pertanyaan seperti ini sudah nggak sehat dan nyrempet-nyrempet bahaya, minimal untuk diri sendiri.
Nah, sekarang bagaimana kalo lebih dari itu? Artinya nggak cuman dipendam saja perasaan itu dan diam nunggu datangnya nasib baik. Ya, lihat-lihat dulu. Kalo dia melakukan upaya-upaya positif; cari tahu dulu dengan baik-baik, siapa dia, tempat tinggalnya dimana,siapa orang tuanya, siapa temannya de-es-te, de-es-te.
Kemudian menggali informasi perihal dirinya, (kayak detektif!). Setelah dirasa cukup, dia menimbang-nimbang dengan seksama keseriusan dirinya sendiri. Apa sih yang dia inginkan, pacaran atau sekedar ajang pembuktian diri.
Pacaran, jelas tidak pada tempatnya. Ajang pembuktian diri? “Aku harus buktikan bahwa aku bisa menaklukkannya?” ini jauh lebih kacau lagi dan dia telah terjerumus. Tetapi, kalo dengan cara yang baik. Misalnya, serius dia menimbang-nimbang masak-masak perasaannya, disertai istikharah, izin orang tua, lalu datang dengan baik-baik kepada wali orang yang membuatnya jatuh cinta. Ini adalah langkah positif. Dia ingin menjajaki takdir dirinya yang terkait jodoh ada dimana. “Kalo memang takdir, ya Alhamdulillah. Kalo nggak, ya Alhamdulillah, itulah yang terbaik.” (Meskipun sebagai manusia dia kecewa juga lhoo, he..he...he...)

***Buku Pacaran, boleh g ya???

Senin, 09 Januari 2012

Untukmu yang Ku Rindukan


Tiba-tiba rasa rindu merasuki jiwaku....
Lama tak ku sapa "beliau"....
Lama tak ku jenguk "beliau"....

Hatiku mulai bergemuruh....

Sesak....

Mataku mulai berkaca-kaca....

Sampai tak ku rasa air mata ini jatuh menetes di pipi....

Betul-betul ku rindukan kehadiran "beliau"..... Tak terasa sudah hampir 11 tahun (Kamis, 25 Januari 2001 06.45 Wita)....
Ku tak melihat wajahnya....
Ku tak mendengar suaranya....

Tak ada nasihat, tak ada semangat, dan tak ada permainan darinya lagi.....


Sesak.....

Sejak "beliau" tiada....
Baru satu kali ku merasakan kehadirannya dalam mimpiku.....

Sehari sejak "beliau" tiada....

Namun, ku bersyukur doaku terkabul...
Aku memimpikannya malam itu juga setelah ku melintasi jalan tersebut.....


Kepada "Aba"-ku tercinta...

Semoga engkau mendapatkan ketenangan di alam sana....
Semoga engkau merasakan keluasan, penerangan, dan keindahan di alam kuburmu.... Aamin.... ya Rabbal 'Alaamin....

***Salam rindu dari ananda, Dzata Bahjah.....